Harga Emas Realtime – Permintaan emas bank sentral kembali menjadi perhatian besar pada 2026. Namun, polanya tidak lagi sesederhana beberapa tahun sebelumnya. World Gold Council mencatat bank sentral membeli sekitar 289 ton emas pada kuartal kedua 2026. Angka itu naik sekitar 62% dibanding periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, total pembelian semester pertama masih menjadi yang terendah sejak 2022. Artinya, minat terhadap emas tetap kuat, tetapi ritmenya berubah. Sebagian bank sentral masih aktif menambah cadangan. Sementara itu, sebagian lainnya terlihat lebih selektif karena harga emas sudah berada pada level tinggi. Menurut saya, perubahan ini penting karena pasar tidak lagi hanya menghitung jumlah pembelian. Investor kini juga membaca siapa yang membeli, mengapa mereka membeli, serta bagaimana strategi cadangan devisa berubah. Dengan demikian, permintaan emas mulai bergerak dari cerita volume menuju cerita strategi.
Baca Juga: Rekor 7 Tahun Pecah, Pre-order Galaxy Z Fold 8 Tembus 1,44 Juta Unit
Pembelian Kuartal Kedua Kembali Menguat
Perubahan strategi terlihat jelas dari data terbaru. Setelah laju yang lebih lambat pada awal tahun, pembelian bank sentral kembali meningkat pada kuartal kedua. World Gold Council mencatat pembelian bersih mencapai 288,9 ton. Sebagai perbandingan, angka kuartal kedua 2025 hanya sekitar 177,9 ton. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa harga tinggi belum sepenuhnya menghilangkan minat institusi resmi. Namun, angka semester pertama tetap lebih rendah dibanding beberapa tahun terakhir. Karena itu, gambaran pasar menjadi lebih seimbang. Bank sentral masih menilai emas penting, tetapi mereka tampaknya lebih berhati-hati dalam menentukan waktu pembelian. Menurut saya, pendekatan ini masuk akal. Harga yang tinggi membuat setiap keputusan pembelian memiliki konsekuensi lebih besar terhadap biaya cadangan. Selain itu, volatilitas yang meningkat juga mendorong bank sentral untuk mengatur ritme akumulasi dengan lebih disiplin.
China Mempercepat Penambahan Cadangan
China menjadi salah satu contoh paling menarik dari perubahan strategi tersebut. Pada Juli 2026, bank sentral China meningkatkan cadangan emas untuk bulan kelima berturut-turut. Reuters melaporkan bahwa penambahan bulanan tersebut menjadi yang terbesar sejak Oktober 2023. Sebelumnya, pada akhir Juni, cadangan emas China mencapai sekitar 75,44 juta fine troy ounces. Jumlah itu naik dari 74,96 juta ounces pada Mei. Kenaikan Juni setara hampir 15 ton. Langkah ini menunjukkan bahwa China tetap menggunakan emas sebagai bagian dari diversifikasi cadangan. Selain itu, kebijakan tersebut sejalan dengan upaya mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Menurut saya, strategi China memberi sinyal penting bagi pasar. Negara besar tidak sekadar membeli emas karena harga naik. Mereka melihat emas sebagai instrumen strategis dalam pengelolaan cadangan jangka panjang. Karena itu, setiap tambahan pembelian China sering mendapat perhatian besar dari pelaku pasar global.
Korea Selatan Kembali Membuka Jalur Pembelian
Perubahan strategi juga terlihat di Korea Selatan. Pada awal Agustus 2026, Bank of Korea mengumumkan rencana membeli emas dari produsen domestik untuk pertama kalinya dalam 13 tahun. Pembelian dilakukan melalui sistem yang terhubung dengan Korea Exchange dan Korea Securities Depository. Langkah tersebut bertujuan memperluas sumber pasokan sekaligus memperkuat pengelolaan cadangan devisa. Menariknya, emas yang dibeli ditujukan untuk ekspor sehingga dampaknya terhadap harga domestik dapat diminimalkan. Menurut saya, pendekatan Korea Selatan menunjukkan bahwa strategi emas kini bukan hanya soal jumlah cadangan. Infrastruktur pembelian, sumber pasokan, dan efisiensi transaksi juga mulai menjadi perhatian. Dengan kata lain, bank sentral semakin memikirkan bagaimana emas diperoleh, bukan sekadar berapa banyak yang dimiliki. Pergeseran ini dapat membuat pasar emas semakin terhubung dengan sistem perdagangan domestik dan regional.
Survei Menunjukkan Minat Jangka Panjang Tetap Tinggi
Walaupun pembelian semester pertama melambat, ekspektasi jangka panjang tetap kuat. Survei World Gold Council 2026 menunjukkan sekitar 89% responden memperkirakan cadangan emas bank sentral global akan meningkat dalam 12 bulan berikutnya. Selain itu, 45% responden memperkirakan cadangan emas institusinya sendiri juga akan bertambah. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi dalam survei tersebut. Reuters juga melaporkan bahwa sekitar 93% responden kini sudah memiliki emas dalam cadangan mereka, naik dari 81% setahun sebelumnya. Data ini menunjukkan satu hal penting. Perlambatan pembelian saat ini tidak berarti perubahan pandangan terhadap emas secara fundamental. Sebaliknya, bank sentral tampaknya masih melihat emas sebagai bagian penting dari diversifikasi cadangan. Menurut saya, perbedaan antara sentimen dan volume pembelian inilah yang perlu diperhatikan. Minat tetap tinggi, tetapi keputusan transaksi menjadi lebih selektif.
Harga Tinggi Mengubah Komposisi Permintaan Global
Permintaan emas tidak hanya datang dari bank sentral. Namun, harga tinggi telah mengubah komposisi permintaan global. World Gold Council mencatat total permintaan emas, termasuk transaksi OTC, mencapai sekitar 1.269 ton pada kuartal kedua 2026. Dengan demikian, permintaan semester pertama mencapai sekitar 2.522 ton atau naik sekitar 2% secara tahunan. Nilai permintaan tersebut bahkan mencapai rekor sekitar US$380 miliar. Namun, kekuatan investasi berlawanan dengan tekanan pada perhiasan. Harga yang tinggi membuat konsumen semakin berhati-hati membeli emas untuk kebutuhan dekoratif. Karena itu, investasi mulai mengambil peran lebih besar dalam struktur permintaan. Menurut saya, perubahan ini membuat pasar emas semakin sensitif terhadap sentimen ekonomi. Ketika investor lebih dominan, faktor seperti suku bunga, geopolitik, dan dolar dapat memengaruhi harga lebih cepat dibanding perubahan permintaan perhiasan.
Investasi Mulai Menyaingi Dominasi Perhiasan
Perubahan besar lainnya terlihat pada investasi fisik. Metals Focus memperkirakan investasi fisik dapat melampaui perhiasan sebagai kategori permintaan emas terbesar pada 2026 untuk pertama kalinya. Proyeksi itu muncul setelah konsumsi perhiasan melemah akibat harga yang tinggi. Sebaliknya, investasi fisik diperkirakan naik sekitar 15% dan mencapai level tertinggi sejak 2013. Pergeseran ini menarik karena selama bertahun-tahun perhiasan menjadi sumber permintaan utama emas secara global. Namun, kondisi 2026 menunjukkan prioritas yang berbeda. Investor lebih banyak menggunakan emas sebagai penyimpan nilai dan alat diversifikasi. Sementara itu, konsumen perhiasan menjadi lebih sensitif terhadap harga. Menurut saya, perubahan tersebut dapat membuat pasar semakin cepat bereaksi terhadap berita ekonomi dan geopolitik. Ketika investasi menjadi penggerak utama, arus dana dapat berubah lebih cepat daripada pola konsumsi perhiasan tradisional.
Pembelian Bank Sentral Masih Menjadi Penopang Harga
Walaupun laju pembelian diperkirakan melambat dibanding 2025, bank sentral tetap menjadi penopang penting harga emas. Metals Focus memperkirakan permintaan bank sentral turun sekitar 15% secara tahunan pada 2026. Namun, volumenya diperkirakan tetap jauh di atas rata-rata sebelum 2022. World Gold Council juga mencatat bank sentral rata-rata mengakumulasi sekitar 1.000 ton emas per tahun selama empat tahun terakhir. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding rata-rata sekitar 500 ton pada dekade sebelumnya. Menurut saya, perbandingan tersebut lebih penting daripada perubahan satu tahun. Bank sentral mungkin mengurangi kecepatan pembelian, tetapi fondasi permintaannya masih jauh lebih kuat dibanding era sebelumnya. Karena itu, pasar tetap memperhatikan aktivitas institusi resmi. Setiap pembelian besar dapat mengubah sentimen, terutama ketika pasokan tambang hanya tumbuh secara terbatas.
Baca Juga: Tips Menjaga Motivasi Setelah Gagal Menurut Psikolog, Jangan Melabeli Diri
Strategi Diversifikasi Menjadi Alasan Utama
Alasan bank sentral membeli emas juga mulai semakin beragam. Diversifikasi cadangan tetap menjadi faktor utama. Namun, risiko geopolitik, volatilitas mata uang, dan kebutuhan mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar juga semakin penting. China memberikan contoh jelas melalui peningkatan cadangan dan pengembangan infrastruktur perdagangan emas di Hong Kong. Reuters melaporkan bahwa sistem Delivery Connect mulai memperkuat hubungan antara Hong Kong dan Shanghai Gold Exchange. Selain itu, kapasitas penyimpanan emas Hong Kong direncanakan meningkat signifikan menjelang 2030. Menurut saya, langkah tersebut menunjukkan bahwa strategi emas tidak hanya terjadi di neraca bank sentral. Infrastruktur perdagangan dan penyimpanan juga ikut berkembang. Jika tren ini berlanjut, Asia dapat memainkan peran lebih besar dalam penentuan harga dan arus fisik emas global. Namun, likuiditas dan kepercayaan pasar tetap menjadi faktor penting sebelum dominasi pusat perdagangan tradisional benar-benar berubah.
Permintaan Emas Bergerak Menuju Struktur yang Lebih Kompleks
Perubahan strategi bank sentral menunjukkan bahwa pasar emas 2026 sedang memasuki fase yang lebih kompleks. Pembelian institusi resmi masih kuat, tetapi tidak lagi bergerak dengan kecepatan yang sama seperti beberapa tahun sebelumnya. China mempercepat akumulasi, Korea Selatan membuka jalur pembelian baru, dan bank sentral lain tetap menunjukkan minat tinggi. Pada saat yang sama, harga tinggi menekan perhiasan dan memperkuat peran investasi. Karena itu, permintaan emas kini tidak dapat dibaca hanya dari satu indikator. Menurut saya, pelaku pasar perlu melihat kombinasi cadangan bank sentral, arus investasi, kebijakan moneter, serta geopolitik secara bersamaan. Selama faktor tersebut terus berubah, emas kemungkinan tetap menjadi bagian penting dari strategi cadangan global. Bahkan ketika pembelian melambat, alasan struktural untuk memegang emas masih terlihat kuat.